7 Amalan Wajib Dalam Ibadah Haji

Amalan-amalan wajib dalam ibadah Haji adalah amalan yang wajib di kerjakan dalam rangkaian pelaksanakan ibadah Haji, jika di tinggalkan baik sengaja maupun tidak di sengaja, harus diganti dengan dam, namun hajinya tetap dianggap sah.

amalan wajib dalam ibadah haji


Amalan wajib dalam ibadah Haji diantaranya :

1. Ihram dari Miqat

Ihram dari miqat adalah langkah pertama dalam rangkaian ibadah haji di mana seorang jamaah haji memasuki keadaan ihram. Ihram adalah keadaan suci yang melibatkan perubahan dalam pakaian, tindakan, dan perilaku seorang muslim yang melakukan haji. Ini menandakan awal dari ibadah haji dan menetapkan batasan-batasan khusus yang harus diikuti selama perjalanan haji.

 Miqat adalah tempat yang ditentukan di sekitar Makkah di mana seorang jamaah haji harus memasuki keadaan ihram sebelum melanjutkan perjalanan ke Baitullah. Terdapat beberapa miqat yang berbeda, dan pilihan miqat tergantung pada rute perjalanan yang diambil oleh jamaah haji.

Saat memasuki miqat, seorang jamaah haji mempersiapkan diri untuk mengenakan pakaian ihram. Pakaian ihram terdiri dari dua lembar kain putih tanpa jahitan untuk laki-laki. Sementara perempuan dapat mengenakan pakaian ihram yang sopan, yang bisa terdiri dari pakaian longgar dan menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. 

Setelah berada di miqat dan berpakaian ihram, seorang jamaah haji mengucapkan niat haji. Niat ini dilakukan dalam hati dan dianjurkan untuk diucapkan secara verbal. Dalam niat tersebut, jamaah haji menyatakan niat untuk melaksanakan haji dengan tujuan yang murni dan ikhlas untuk Allah,  berkomitmen untuk menunaikan ibadah haji dengan sepenuh hati, menjauhkan diri dari hal-hal duniawi, dan berfokus pada tujuan utama ibadah ini, yaitu mendekatkan diri kepada Allah.


2. Lempar Jumroh Aqabah

Melempar Jumrah Aqabah adalah salah satu amalan yang dilakukan oleh jamaah haji sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji. Ini adalah salah satu amalan yang dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah sebagai bagian dari ritual melontarkan jumrah.

Jumrah Aqabah adalah salah satu dari tiga tiang Jumrah yang terletak di Mina, dekat dengan Masjid Al-Khaif. Jamaah haji melemparkan tujuh batu kecil pada Jumrah Aqabah sebagai simbol mengusir setan dan menolak godaan syetan. Ini mengingatkan jamaah haji tentang ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta mengajarkan makna penolakan terhadap godaan setan dalam hidup mereka, yaitu dalam peristiwa di mana Nabi Ibrahim (AS) menolak godaan setan saat diuji oleh Allah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail (AS).

Proses melempar jumrah dimulai dengan jamaah haji mengumpulkan tujuh batu kecil di Mina atau membelinya dari pedagang batu di sekitar area Jumrah. Setelah itu, mereka berjalan menuju Jumrah Aqabah dan berdiri di dekat tempat pelontaran.

Jamaah haji kemudian melontarkan batu-batu tersebut satu per satu pada Jumrah Aqabah sambil mengucapkan dzikir dan doa. Setiap kali batu dilontarkan, mereka biasanya mengucapkan "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) sebagai tanda kekuasaan Allah atas setan dan godaan jahat.

Setelah melemparkan tujuh batu pada Jumrah Aqabah, amalan melempar jumrah selesai untuk hari itu. Jamaah haji kemudian dapat kembali ke tempat mereka tinggal di Mina untuk melanjutkan ibadah haji mereka.



3. Lempar Jumrah Ula, Wustho, Kubro.

Dalam rangkaian ibadah haji, melempar jumrah melibatkan tiga tiang Jumrah yang harus dilontarkan oleh jamaah haji. Ketiga tiang tersebut adalah Jumrah Ula, Jumrah Wustho, dan Jumrah Kubra. Berikut penjelasan tentang ketiga jumrah tersebut: 

a.       Jumrah Ula: Jumrah Ula adalah tiang Jumrah pertama yang dilontarkan oleh jamaah haji. Terletak lebih dekat dengan Masjid Al-Khaif di Mina. Melempar Jumrah Ula dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah wukuf di Arafah. Jamaah haji melemparkan tujuh batu kecil pada Jumrah Ula secara berurutan, sambil berdoa dan berzikir. 

b.       Jumrah Wustho: Setelah melempar Jumrah Ula, jamaah haji melanjutkan ke Jumrah Wustho, yang merupakan tiang Jumrah kedua yang lebih kecil. Melempar Jumrah Wustho juga dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah Jumrah Ula. Jamaah haji kembali melemparkan tujuh batu pada Jumrah Wustho secara berurutan, sambil memperbanyak doa dan dzikir. 

c.       Jumrah Kubra: Jumrah Kubra adalah tiang Jumrah terakhir yang paling besar. Terletak lebih jauh dari Jumrah Ula dan Jumrah Wustho. Melempar Jumrah Kubra dilakukan pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah setelah melempar Jumrah Ula dan Jumrah Wustho. Pada setiap hari tersebut, jamaah haji melemparkan tujuh batu pada Jumrah Kubra secara berurutan. 

Pada hari-hari pelontaran jumrah, setelah melempar jumrah pada tiang yang sesuai, jamaah haji juga bisa melakukan beberapa kegiatan lainnya di Mina, seperti beribadah, berdoa, dan mengingat Allah. Setelah melontarkan jumrah pada tanggal 12 Dzulhijjah, jamaah haji biasanya meninggalkan Mina dan melanjutkan perjalanan mereka dalam rangka melengkapi ibadah haji.

Melempar jumrah pada tiang-tiang Jumrah tersebut adalah amalan wajib dalam ibadah haji. Ini mengingatkan jamaah haji tentang ketaatan Nabi Ibrahim (AS) dalam menolak godaan setan dan mengajarkan pengendalian diri serta penolakan terhadap godaan yang muncul dalam hidup mereka.

4. Bermalam Di Musdalifah.

Bermalam di Muzdalifah adalah salah satu bagian penting dalam rangkaian ibadah haji. Setelah melaksanakan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah haji melanjutkan perjalanan mereka menuju Muzdalifah, sebuah lembah yang terletak antara Arafah dan Mina. 

Berikut adalah penjelasan tentang bermalam di Muzdalifah dalam rangkaian ibadah haji: 

a.       Kedatangan di Muzdalifah: Setelah wukuf di Arafah, jamaah haji bergerak menuju Muzdalifah menjelang malam hari. Biasanya, mereka tiba di Muzdalifah setelah terbenam matahari atau menjelang malam. Jamaah haji menghabiskan malam di sana dan berada di Muzdalifah hingga terbit fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah. 

b.       Shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah: Setibanya di Muzdalifah, jamaah haji melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara berjamaah dengan menggabungkannya dan melakukan qashar (memperpendek shalat). Shalat Maghrib dan Isya dilakukan dengan dua rakaat masing-masing, dimulai dengan shalat Maghrib terlebih dahulu, diikuti oleh shalat Isya. 

c.       Mengumpulkan Batu Jumrah: Selama bermalam di Muzdalifah, jamaah haji juga memiliki tugas untuk mengumpulkan tujuh batu kecil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina pada hari-hari berikutnya. 

d.       Dzikir, Doa, dan Penghormatan: Muzdalifah adalah waktu dan tempat yang tepat bagi jamaah haji untuk berdzikir, berdoa, dan menghormati Allah. Jamaah haji dianjurkan untuk meluangkan waktu untuk berintrospeksi, bertobat, dan memperbanyak ibadah di malam yang berharga ini. 

e.       Meninggalkan Muzdalifah: Setelah terbit fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji meninggalkan Muzdalifah menuju Mina. Mereka melanjutkan perjalanan ibadah haji dengan melontarkan jumrah, melakukan qurban, mencukur atau memotong rambut sebagai tanda menyelesaikan beberapa rukun haji. 

Bermalam di Muzdalifah memiliki makna yang penting dalam ibadah haji. Ini mengajarkan kesederhanaan, kesabaran, dan kepatuhan kepada perintah Allah. Muzdalifah juga menjadi kesempatan bagi jamaah haji untuk merefleksikan kehidupan mereka, memohon ampunan Allah, dan memperbanyak amalan serta doa.


5. Bermalam Di Mina

Bermalam di Mina merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian ibadah haji. Setelah melempar jumrah di Muzdalifah pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji melanjutkan perjalanan mereka menuju Mina. Berikut penjelasan tentang bermalam di Mina dalam ibadah haji: 

a.       Kedatangan di Mina: Setelah meninggalkan Muzdalifah, jamaah haji tiba di Mina. Mina adalah daerah terletak sekitar 8 kilometer timur laut dari Makkah. Di Mina, terdapat tenda-tenda yang disediakan untuk menampung jamaah haji. 

b.       Melempar Jumrah: Setibanya di Mina, jamaah haji akan melanjutkan amalan melempar jumrah. Mereka melempar tujuh batu kecil pada tiang Jumrah pertama, yang disebut Jumrah Kubra, yang merupakan tiang terbesar. Setelah itu, mereka melanjutkan dengan melempar tujuh batu pada Jumrah Wustho (tian tengah) dan Jumrah Ula (tiang pertama). Melempar jumrah ini merupakan simulasi penolakan terhadap godaan setan, mengikuti jejak Nabi Ibrahim (AS) saat menolak perintah setan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail (AS). 

c.       Ibadah dan Dzikir: Selama bermalam di Mina, jamaah haji memiliki waktu yang berharga untuk beribadah dan berzikir. Mereka dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Quran, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah. Mina menjadi tempat untuk memperdalam ikatan spiritual dengan Allah dan merenungkan makna ibadah haji. 

d.       Mengulangi Melempar Jumrah: Jamaah haji akan melanjutkan melempar jumrah pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah. Pada kedua hari tersebut, mereka akan melempar batu pada ketiga tiang Jumrah (Jumrah Kubra, Jumrah Wustho, dan Jumrah Ula). Proses ini serupa dengan melempar jumrah sebelumnya di Mina. 

e.       Menyempurnakan Rukun Haji: Bermalam di Mina memberikan kesempatan bagi jamaah haji untuk menyempurnakan rukun haji lainnya, seperti melakukan qurban (korban hewan), mencukur atau memotong rambut (tahallul), dan melaksanakan ibadah lainnya sesuai tata cara yang ditetapkan. 

Bermalam di Mina merupakan bagian penting dalam ibadah haji, mengingat peristiwa penting yang terjadi di tempat ini. Selain itu, bermalam di Mina juga memberikan kesempatan bagi jamaah haji untuk memperdalam ikatan dengan Allah, melaksanakan amalan-amalan yang dianjurkan, dan mengalami pengalaman bersama dalam rangkaian ibadah haji.


6. Menjauhi Larangan Ketika Ber-Ihram

Ketika berada dalam keadaan ber-ihram, ada beberapa larangan yang harus diikuti oleh jamaah haji atau umrah. Berikut adalah beberapa larangan utama ketika berada dalam keadaan ber-ihram:

  • Melakukan pemotongan rambut atau mencukur. Baik bagi laki-laki maupun perempuan, tidak diperbolehkan memotong rambut sama sekali ketika berada dalam keadaan ber-ihram. Hanya boleh memotong rambut setelah selesai melaksanakan tawaf wada (tawaf perpisahan).
  • Mencabut atau mencukur bulu atau rambut tubuh lainnya. Selain rambut di kepala, tidak diperbolehkan mencabut atau mencukur bulu atau rambut di tubuh bagian lain, seperti janggut, kumis, atau bulu ketiak, selama dalam keadaan ber-ihram.
  • Menggunakan wewangian atau minyak wangi. Tidak diperbolehkan menggunakan wewangian atau minyak wangi pada tubuh atau pakaian selama berada dalam keadaan ber-ihram. Ini termasuk parfum, sabun beraroma kuat, atau produk-produk wewangian lainnya.
  • Berhubungan intim atau melakukan tindakan seksual. Ketika dalam keadaan ber-ihram, jamaah haji atau umrah tidak diperbolehkan melakukan hubungan intim atau melakukan tindakan seksual dengan pasangan.
  • Berburu atau membunuh binatang. Dalam keadaan ber-ihram, tidak diperbolehkan untuk berburu, membunuh, atau menyakiti binatang apa pun, termasuk serangga atau hewan kecil.
  • Memotong atau merusak tumbuhan. Tidak diperbolehkan memotong atau merusak tumbuhan di Mekah, Madinah, atau di sekitar tempat-tempat suci lainnya. Ini juga mencakup arrak atau pohon kurma.
  • Memakai pakaian yang menjulur ke bawah mata kaki. Pakaian yang dikenakan dalam keadaan ber-ihram tidak boleh menjulur melewati mata kaki. Pakaian harus cukup pendek untuk menghindari menjejalkan atau menyalahi larangan ini.

 Penting untuk diingat bahwa larangan-larangan ini berlaku untuk jamaah haji atau umrah yang berada dalam keadaan ber-ihram. Selain itu, menjaga niat dan sikap yang baik serta menghindari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan juga penting selama menjalankan ibadah haji atau umrah.


7. Thawaf Wada

Thawaf Wada adalah thawaf terakhir yang dilakukan oleh jamaah haji sebelum meninggalkan Makkah. Thawaf ini juga dikenal sebagai "Thawaf Perpisahan". Ini merupakan tahapan penting dalam rangkaian ibadah haji dan dilakukan setelah menyelesaikan semua rukun haji dan sebelum meninggalkan Makkah. Berikut adalah penjelasan tentang Thawaf Wada: 

  • Waktu Pelaksanaan: Thawaf Wada dilakukan sebelum jamaah haji meninggalkan Makkah setelah menyelesaikan semua rukun haji, termasuk melempar jumrah, thawaf Ifadhah, dan sa'i antara Safa dan Marwah. Ini bisa dilakukan kapan saja sebelum meninggalkan Makkah, tetapi umumnya disarankan untuk dilakukan di Masjid Al-Haram sebelum keberangkatan.
  • Tawaf di Ka'bah: Jamaah haji memulai Thawaf Wada dengan memasuki Masjid Al-Haram dan menuju Ka'bah. Mereka melaksanakan tujuh putaran tawaf di sekitar Ka'bah dengan cara yang sama seperti thawaf sebelumnya. Tawaf dimulai dari Hajar Aswad (Batunya Nabi Ibrahim) di sudut Ka'bah, berjalan mengelilingi Ka'bah searah jarum jam, dan diakhiri dengan mencium atau menyentuh Hajar Aswad.
  • Doa dan Penghormatan Terakhir: Selama Thawaf Wada, jamaah haji dianjurkan untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah. Mereka juga dapat menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih kepada Allah atas kesempatan melakukan ibadah haji dan memohon agar ibadah mereka diterima.
  • Melakukan Sai Terakhir: Setelah menyelesaikan Thawaf Wada, jamaah haji melanjutkan untuk melakukan sai terakhir. Sai ini melibatkan berjalan antara Bukit Safa dan Marwah tujuh kali seperti dalam ibadah sai sebelumnya. Setelah selesai, ibadah haji dianggap selesai dan jamaah haji siap untuk meninggalkan Makkah.

Thawaf Wada menandai akhir perjalanan ibadah haji dan merupakan momen penting di mana jamaah haji berpisah dengan Ka'bah dan Masjid Al-Haram. Ini juga menjadi kesempatan terakhir untuk memohon ampunan, memohon keberkahan, dan meninggalkan Makkah dengan perasaan rendah hati dan syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah.

Demikian amalan-amalan wajib dalam melaksanakan ibadah haji, semoga bermanfaat.
Sumber : Kitab Hidayah an-Nasikin Fi Manasik Al-Haji Wal Umrah.